Benarkah Virus Babi Hog Cholera Menular pada Manusia? Cari Fakta!!

Dilansir dari CNN Indonesia, Dugaan pemerintah Provinsi Sumatera Utara kurang lebih 61 peternak babi di Medan membuang bangkai babi sembarangan di sungai dan pinggir jalan kota sehingga sangat mengganggu warga setempat.

Tidak tanggung-tanggung lebih dari 5000 babi ternaj di Sumut mati disebabkan terjangkit Virus Hog Cholera.

Ada yang tau tidak apa itu Virus Hog Cholera?

Hog Cholera atau Kolera Babi adalah penyakit menular pada babi yang disebabkan oleh Pestivirus C. Selain itu penyakit ini juga bisa disebut sebagai demam babi yang sangat fatal terjadi pada babi. Hog Cholera atau demam babi berasal Negara Afrika dan hampir 55 negara di 3 benua kena serangan virus tersebut, tirto.id

Apakah Hog Cholera bisa menular kepada manusia?

Narasi yang menyebut bahwa virus babi yang bernama Hog Cholera menular kepada manusia yang mengkonsumsi daging babi yang terjangkit virus tersebut.

Fakta atau Hoaks berita tersebut sudah tayang di chanel youtube caroline da dengan jumlah views video mencapai 53 ribu lebih sejak video dipublikasikan pada tanggal 29 Oktober 2019. Bahkan di Facebook akun terdapat foto yang sama diunggah oleh Raf Ginting Papua.

PEMERIKSAAN FAKTA

- Benarkah pasien yang fotonya muncul dalam unggahan di YouTube dan Facebook di atas terkena virus babi?
- Benarkah virus babi menyerang manusia?

Tentang gambar tangkapan layar berita

Tempo menemukan berita yang berjudul “Hampir 2 Ribu Babi di Sumut Terjangkit Hog Kolera” itu dipublikasikan oleh situs Medan Inside. Berita tersebut berisi tentang virus Hog Cholera atau kolera babi yang sedang mewabah di Sumatera Utara (Sumut). Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut mencatat sebanyak 1.985 babi yang tersebar di tujuh kabupaten di Sumut terjangkit virus kolera babi.

Menjangkitnya virus Hog Cholera terhadap hampir 2 ribu babi di Sumut itu juga dipublikasikan oleh situs Kompas.com pada 24 Oktober 2019. Beritanya berjudul "Hampir 2000 Ekor Ternak Babi di Sumut Terjangkit Hog Cholera, Amankah?".

Dengan demikian, gambar tangkapan layar berita yang tersebar di Facebook tersebut benar.

Foto pasien yang diklaim terkena virus babi

Tempo menggunakan reverse image tools pada Google dan Yandex untuk menelusuri apakah foto tersebut benar merupakan foto pasien yang terkena virus babi bernama Hog Cholera. Hasilnya, ditemukan foto yang sama di situs media Vietnam, Danviet.

Dalam berita tersebut dijelaskan bahwa pasien itu mengalami perdarahan subkutan yang menjadi gejala penyakit streptokokus. Perdarahan ini bukan disebabkan oleh virus kolera babi. Kedua foto pasien yang diklaim terkena virus Hog Kolera itu pernah viral di Vietnam saat mewabahnya virus babi Afrika (African swine fever atau demam babi Afrika) di sana pada 7 Maret 2019.

Menurut Departemen Pembangunan Industri Primer dan Regional Australia, virus babi Afrika (African swine fever) memang serupa dengan virus Hog Cholera (classical swine fever) meskipun jenis virusnya berbeda. Kedua virus ini hanya bisa menyerang babi, tidak bisa menyerang manusia.

Foto babi yang mengalami pendarahan

Dengan reverse image tools Google, Tempo menelusuri foto yang memperlihatkan dua petugas sedang memeriksa seekor babi dengan pendarahan di kulitnya. Hasilnya, babi tersebut tidak terkena virus Hog Cholera atau virus babi Afrika.

Situs berita Vietnam, Docbao, pernah mempublikasikan artikel dengan foto tersebut pada 2 Oktober 2015. Secara garis besar, berita itu berisi tentang pemeriksaan tim inspeksi interdisipliner Thailand di restoran Hai Beo milik Pham Thanh Hai pada 29 September 2015. Tim itu memeriksa dua babi yang dijual di restoran tersebut karena mengalami pendarahan memar pada permukaan kulitnya. Menurut hasil pemeriksaan tim itu, babi tersebut terkena pasteurelosis, penyakit bakterial yang kerap menyerang hewan ternak.

Video ratusan babi yang dikubur hidup-hidup

Di bagian akhir video yang diunggah kanal Caroline Da, tampak ribuan babi yang dikubur hidup-hidup. Dari penelusuran Tempo, video itu pernah dipublikasikan oleh kanal China Hotspot Video pada 18 Agustus 2019 dengan judul “Pigs of African swine fever buried collectively in mainland China on August 17, 2019”.

Virus babi Afrika pertama kali terdeteksi di Cina pada 3 Agustus 2018. Sejak itu, Kementerian Pertanian dan Pedesaan Cina mencatat bahwa terdapat lebih dari 100 kasus pembantaian terhadap sekitar 916 ribu babi dengan cara dibakar massal. Meskipun wabah terburuk terjadi di Cina, penyakit ini telah menyebar ke Vietnam, Kamboja, Mongolia, dan Rusia. Cina sendiri adalah rumah bagi sekitar 440 juta babi (setengah dari populasi babi di dunia) dan sebanyak 1,2 juta babi telah dibunuh untuk menghentikan penyakit ini.

Tidak menyerang manusia

Kementerian Pertanian dan Pembangunan Pedesaan serta Kementerian Kesehatan Vietnam telah mengkonfirmasi bahwa virus babi Afrika tidak menginfeksi manusia. “Penyakit ini tidak menyebabkan penyakit pada manusia. Jadi, masyarakat diharap tenang, jangan panik dengan memboikot konsumsi produk daging babi yang aman, bebas penyakit, dan diproses secara higienis,” tulis pemerintah Vietnam dalam situs media Vietnam, Baogiaothong, pada 8 Maret 2019.

Menurut Direktur Pencegahan Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmidi, masyarakat tidak perlu takut dengan keberadaan virus babi Afrika. Hingga saat ini, belum ada data yang menyebut bahwa virus tersebut dapat menyerang manusia. Dia pun mengatakan penanganan dan pencegahan penyakit yang berasal dari babi ini bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan dan sanitasi kandang, juga vaksinasi.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut, Azhar Harahap, juga menyatakan bahwa virus Hog Cholera tidak membahayakan manusia walaupun daging babi yang terjangkit virus itu dikonsumsi. Azhar juga menambahkan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai pencegahan agar virus tersebut tidak menyebar lebih luas.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, kabar yang menyebut bahwa virus Hog Cholera atau kolera babi sedang mewabah di Sumatera Utara adalah benar. Namun, foto pasien yang diklaim terkena virus itu keliru. Begitu juga dengan foto babi yang mengalami pendarahan, bukan foto babi yang terkena virus Hog Cholera atau virus babi Afrika. Kementerian Kesehatan pun telah menyatakan bahwa virus babi Afrika tidak menular pada manusia. Begitu pula dengan virus Hog Cholera, tidak membahayakan manusia. Dengan demikian, narasi yang menyebut bahwa virus Hog Cholera menular pada manusia adalah keliru.