Tidak Ada Orang Mati Kelaparan Karena Trend. Tapi Trend Bisa Membuat Kita Mati Kelaparan
Di era digital seperti sekarang, trend berkembang lebih cepat daripada kemampuan kita untuk berpikir rasional. Setiap hari selalu ada gaya hidup baru, produk baru, challenge baru, hingga standar sosial baru yang seolah wajib diikuti. Kalimat “tidak ada orang mati kelaparan karena trend, tapi trend bisa membuat kita mati kelaparan” terdengar sederhana, namun memiliki makna yang sangat dalam. Trend memang bukan racun yang membunuh secara langsung, tetapi keputusan finansial yang salah akibat mengikuti trend secara berlebihan dapat menghancurkan stabilitas ekonomi seseorang secara perlahan.
Fenomena ini semakin terlihat jelas di tengah budaya media sosial yang menampilkan kehidupan serba glamor, serba update, dan serba cepat. Banyak orang merasa harus selalu terlihat mengikuti perkembangan terbaru agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Padahal, kebutuhan hidup yang sebenarnya tidak selalu sejalan dengan apa yang sedang viral. Ketika seseorang memaksakan diri mengikuti trend tanpa mempertimbangkan kondisi finansial, di situlah potensi “kelaparan” secara ekonomi mulai terbentuk.
Salah satu faktor utama yang mendorong perilaku ini adalah FOMO atau Fear of Missing Out. FOMO membuat seseorang merasa cemas jika tidak ikut dalam arus yang sedang populer. Ketakutan dianggap tidak gaul, tidak update, atau tidak relevan membuat banyak orang mengambil keputusan impulsif. Mereka membeli barang yang tidak dibutuhkan, berlangganan layanan yang jarang digunakan, hingga memaksakan gaya hidup di luar kemampuan hanya demi pengakuan sosial.
FOMO bukan hanya sekadar perasaan ingin ikut-ikutan. Ia bekerja secara psikologis, memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ketika melihat orang lain sukses, liburan mewah, atau membeli barang branded terbaru, muncul tekanan batin yang seolah mengatakan bahwa kita juga harus melakukan hal yang sama. Padahal, realitas di balik layar sering kali berbeda dari apa yang ditampilkan. Tidak semua yang terlihat mewah benar-benar mencerminkan kondisi finansial yang sehat.
Dalam konteks finansial, mengikuti trend tanpa perhitungan adalah bentuk pengelolaan uang yang berisiko tinggi. Penghasilan tetap, tetapi pengeluaran terus meningkat karena mengikuti gaya hidup yang tidak sesuai kebutuhan. Ketika pemasukan tidak mampu menutupi pengeluaran, seseorang mulai menggunakan kartu kredit, pinjaman online, atau utang konsumtif lainnya. Inilah awal dari masalah yang lebih besar, di mana beban cicilan perlahan menggerus stabilitas ekonomi keluarga.
Banyak orang menganggap membeli barang trendi adalah investasi sosial. Mereka berpikir bahwa dengan mengikuti trend, mereka akan mendapatkan jaringan pertemanan lebih luas, peluang bisnis lebih besar, atau status sosial yang lebih tinggi. Namun kenyataannya, status sosial yang dibangun dari konsumsi berlebihan bersifat semu. Ia bertahan selama arus uang masih mengalir, dan runtuh ketika keuangan mulai goyah.
Trend pada dasarnya tidak salah. Ia adalah bagian dari dinamika budaya dan perkembangan zaman. Masalah muncul ketika trend dijadikan standar hidup, bukan sekadar referensi gaya. Ketika seseorang merasa harga dirinya ditentukan oleh apa yang ia pakai, makan, atau pamerkan di media sosial, maka ego mulai mengambil alih logika. Ego inilah yang sering menjadi akar dari keputusan finansial yang keliru.
Ego membuat seseorang sulit menerima kenyataan bahwa dirinya belum mampu membeli sesuatu. Alih-alih menunda dan menabung, ia memilih jalan pintas agar terlihat setara dengan lingkungan sosialnya. Keputusan seperti ini sering diambil bukan karena kebutuhan, melainkan karena gengsi. Gengsi adalah pengeluaran paling mahal yang jarang disadari, karena ia tidak terlihat dalam bentuk fisik, tetapi dampaknya nyata dalam kondisi keuangan.
Dalam jangka pendek, mengikuti trend mungkin terasa menyenangkan. Ada sensasi puas ketika berhasil membeli barang yang sedang viral atau mencoba tempat yang sedang hits. Namun sensasi itu biasanya tidak bertahan lama. Setelah euforia hilang, yang tersisa adalah tagihan. Jika kebiasaan ini terus berulang, maka akumulasi pengeluaran akan semakin besar dan sulit dikendalikan.
Kondisi inilah yang membuat trend secara tidak langsung bisa membuat seseorang “mati kelaparan”. Bukan kelaparan secara harfiah dalam arti tidak makan sama sekali, tetapi kelaparan dalam arti tidak memiliki dana darurat, tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok dengan nyaman, dan hidup dalam tekanan finansial berkepanjangan. Ketika sebagian besar penghasilan habis untuk gaya hidup, ruang untuk menabung dan berinvestasi menjadi sangat sempit.
FOMO juga sering mendorong perilaku konsumtif yang tidak terencana. Flash sale, limited edition, dan diskon besar-besaran sering dimanfaatkan oleh strategi pemasaran untuk menciptakan rasa urgensi. Orang membeli bukan karena butuh, tetapi karena takut kehabisan. Padahal, banyak barang yang sebenarnya bisa ditunda pembeliannya atau bahkan tidak perlu dibeli sama sekali.
Media sosial memperkuat siklus ini. Algoritma menampilkan konten yang relevan dengan minat pengguna, sehingga iklan dan promosi semakin personal. Tanpa disadari, seseorang terus terpapar gaya hidup tertentu yang akhirnya dianggap sebagai standar normal. Jika tidak memiliki kesadaran diri yang kuat, seseorang mudah terjebak dalam ilusi bahwa semua orang hidup lebih mewah dan lebih sukses darinya.
Padahal, realitas finansial setiap orang berbeda. Ada yang memiliki penghasilan besar, ada yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Membandingkan diri tanpa melihat konteks hanya akan menimbulkan tekanan psikologis. Tekanan ini kemudian diterjemahkan menjadi keputusan konsumtif sebagai bentuk kompensasi emosional.
Hubungan antara trend, FOMO, dan finansial sangat erat. FOMO menciptakan dorongan emosional, trend menyediakan objek konsumsi, dan finansial menjadi korban jika tidak dikelola dengan bijak. Tanpa perencanaan keuangan yang matang, seseorang bisa terjebak dalam lingkaran pengeluaran tanpa arah. Gaji datang dan pergi tanpa meninggalkan jejak tabungan.
Lebih parah lagi, kebiasaan ini dapat memengaruhi keluarga. Ketika kepala keluarga lebih mementingkan gengsi daripada kebutuhan rumah tangga, maka risiko finansial semakin besar. Pendidikan anak, kesehatan, dan kebutuhan pokok bisa terabaikan demi mempertahankan citra sosial. Inilah bentuk egoisme yang sering tidak disadari.
Egois dalam konteks ini bukan hanya soal tidak peduli pada orang lain, tetapi lebih pada mendahulukan citra diri daripada kesejahteraan jangka panjang. Seseorang mungkin merasa puas ketika dipuji karena tampil stylish atau selalu update, tetapi lupa bahwa stabilitas finansial adalah fondasi utama kehidupan yang tenang.
Untuk keluar dari jebakan ini, dibutuhkan kesadaran dan disiplin. Langkah pertama adalah membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan bersifat mendesak dan penting untuk kelangsungan hidup, sedangkan keinginan sering kali dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Dengan memahami perbedaan ini, seseorang dapat mulai mengontrol pengeluaran secara lebih bijak.
Langkah berikutnya adalah membuat anggaran bulanan yang realistis. Tentukan alokasi untuk kebutuhan pokok, tabungan, investasi, dan hiburan. Trend boleh diikuti, tetapi harus sesuai dengan kemampuan. Jangan sampai keinginan mengalahkan prioritas utama. Dengan perencanaan yang jelas, kita dapat menikmati perkembangan zaman tanpa mengorbankan masa depan.
Membangun dana darurat juga menjadi hal penting agar tidak mudah goyah ketika kondisi ekonomi berubah. Dana darurat memberikan rasa aman dan mengurangi tekanan psikologis. Ketika seseorang memiliki cadangan keuangan, ia tidak mudah tergoda untuk membuktikan diri lewat konsumsi berlebihan.
Selain itu, penting untuk melatih rasa cukup. Rasa cukup bukan berarti berhenti berkembang, tetapi menerima kondisi saat ini tanpa merasa rendah diri. Dengan rasa cukup, FOMO dapat ditekan, dan keputusan finansial menjadi lebih rasional. Kita belajar menghargai proses, bukan hanya hasil yang terlihat di permukaan.
Pendidikan finansial juga memegang peranan besar dalam membentuk pola pikir yang sehat. Memahami konsep investasi, bunga majemuk, inflasi, dan manajemen risiko dapat membantu seseorang melihat dampak jangka panjang dari setiap keputusan keuangan. Ketika seseorang sadar bahwa uang bisa berkembang jika dikelola dengan baik, ia akan lebih berhati-hati dalam membelanjakannya.
Pada akhirnya, trend hanyalah bagian dari perjalanan zaman. Ia datang dan pergi. Apa yang viral hari ini belum tentu relevan besok. Namun dampak keputusan finansial bisa bertahan bertahun-tahun. Oleh karena itu, bijaklah dalam mengikuti arus. Jangan biarkan FOMO mengendalikan hidup, jangan biarkan ego menentukan arah finansial, dan jangan sampai demi terlihat mengikuti trend, kita justru kehilangan kestabilan hidup.
Tidak ada orang mati kelaparan karena trend secara langsung. Tetapi jika trend diikuti tanpa kendali, tanpa perencanaan, dan tanpa kesadaran, maka ia bisa menjadi penyebab runtuhnya fondasi keuangan. Ketika fondasi itu runtuh, kebutuhan dasar pun bisa terancam. Maka dari itu, jadilah pribadi yang cerdas dalam bersikap. Ikuti trend seperlunya, bangun finansial sekuat mungkin, dan kendalikan ego sebelum ia mengendalikan kita.
