Prilaku Menyimpang - Edukasi

Perilaku Menyimpang dan Pengendalian Sosial (Materi Pembelajaran Sosiologi SMA Kelas X / 10)

I. Perilaku Menyimpang Dan Pengendalian Sosial

Definisi perilaku menyimpang menurut beberapa ahli sosiologi:
a. Robertz M.Z Lawang
Penyimpangan adalah tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari pihak berwenang untuk memperbaiki perilaku yang menyimpang atau abornasi tersebut.

b. James Vander Zaden
Penyimpangan merupakan perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan diluar batas toleransi.

c. Bruce J. CohenPerilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat.

d. Paul B. Horton
Penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat.

B. Ciri-Ciri Perilaku Menyimpang

Perilaku menyimpang bisa diketahui melalui ciri-ciri yang diperlihatkan. Berikut ini adalah ciri-ciri perilaku menyimpang menurut Paul B. Horton:
1. Penyimpangan harus dapat didefinisikan
2. Penyimpangan bisa diterima bisa juga ditolak
3. Penyimpangan relative dan penyimpangan mutlak
4. Penyimpangan terhadap budaya nyata ataukah budaya ideal
5. Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan
6. Penyimpangan sosial bersifat adaptif (menyesuaikan)

C. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Perilaku Menyimpang

1. Sikap mental yang tidak sehat
2. Ketidakharmonisan dalam keluarga (keluarga yang broken home)
3. Pelampiasan rasa kecewa
4. Dorongan kebutuhan ekonomi
5. Pengaruh lingkungan dan media massa
6. Keinginan untuk dipuji
7. Ketidaksanggupan menyerap norma
8. Adnaya ikatan sosial yang berlain-lainan
9. Proses belajar yang menyimpang
10. Proses sosialisasi nilai-nilai subkebudayaan menyimpang
11. Kegagalan dalam proses sosialisasi

D. Media Pembentukan Perilaku Menyimpang:

1. Keluarga
2. Kelompok bermain
3. Lingkungan tempat tinggal
4. Media massa

II. Perilaku Menyimpang Sebagai Akibat Proses Sosisalisasi Yang Tidak Sempurna

Proses sosialisasi dapat dianggap tidak berhasil jika individu tidak mampi mendalami norma-norma maayarakat agar menjadi bagian dari dirinya. Proses sosialisasi yang dialami seseorang yang tidak sempurna diakibatkan oleh media informasi dan media sosialisasi yang satu dengan yang lain saling bertentangan. Terkadang pesan-pesan yang disampaikan oleh agen sosialisasi seperti keluarga, teman bermain, sekolah, dan media massa tidak sepadan atau saling bertentangan satu sama lain.

Contohnya : sebuah keluarga memberikan pesan untuk tidak merokok kepada anggota keluarganya dalam hal ini adalah abak, tetapi si anak melihat atau membaca di media massa bagaimana rokok diiklankan dengan sangat menarik. Ia juga melihat teman bermainnya semuanya merokok. Kondisi sepeti ini menyebabkan si anak mengalami konflik batin antara menghargai norma atau nilai yang diberikan keluarga atau memilih norma yang berkembang pada kelompok bermainnya. Proses sosialisasi yang tidak sempurna juga dapat timbul akibat cacat yang di derita sejak lahir baik itu gangguan jiwa, gangguab mental dan lain sebagainya.

III. Perilaku menyimpang Sebagai Hasil Proses Sosialisaisi NIlai-Nilai Subkebudayaan Menyimpang.

Seorang anak yang dibesarkan pada suatu lingkungan yang menganggap perbuatan mabuk-mabukan, perkelahian, dan pelacuran sebagai hal biasa cenderung akan melakukan perbuatan menyimoang yang serupa. Di lain pihak, menurut ukuran masyarakat luas perbuatan itu dianggap menyimpang. Penyimoangan bersumber dari pergaulan yang berbeda ( differential association) yang dipelajari melalui proses alih budaya. Melalui proses belajar inilah, anak menyerap suatu subkebudayaan menyimpang dari kelompok atau lingkungan tertentu dalam masyarakat.

IV. Bentuk-Bentuk Penyimpangan Sosial

1. Penyimpangan primer

Penyimpangan ini bersifat temporer atau hanya sementara, karena hanya dilakukan sekali atau sewaktu-waktu saja bahkan cenderung tidak terulang kembali. Dan orang yang melakukan perilaku menyimpang ini biasanya masih tetap dapat diterima oleh kelompok sosialnya atau masyarakat karena hanya bersifat sementara dan biasanya tidak akan dilakukan lagi. Misalnya tidak menggunakan helm saat berkendara di jalan raya dan lain sebagainya.

Ciri-ciri penyimpangan primer:

a. Bersifat sementara
b. Gaya hidupnya tudak didominasi oleh perilaku menyimpang
c. Masyarakat masih mentoleransi pelanggran yang terjadi.

2. Penyimpangan sekunder

Penyimpangan sekunder merupakan penyimoangan sosial yang dilakuakan secara berulang-ulang dan terus-menerus meskipun sanksi telah diberikan kepadanya. Sehingga para pelaku penyimpangan ini secara umum dikenal sebagai ornag yangbberperilaku menyimpang. Misalnya: pembunuhan, pemerkosaan, pemabuk, permapok dan lain sebagainya.

Ciri-ciri penyimpangan sekunder:

a. Gaya hidupnya didominasi oleh perilaku menyimpang.
b. Masyarakat tidak bisa mentolerir perilaku menyimpang tersebut.

Berdasarkan jumlah pelakunya, perilaku menyimpang dapat dibedakan menjadi beberapa:
a. Penyimpangan individu, penyimpangan yang dilakuakan oelh seorang individu dengan melakuakan tindakan-tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku. Misal: mencuri ayam yang dilakukan seorang diri.
b. Penyimpangan kelompok, penyimoangan yang dilakuakn secara berkelompok dengan melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku. Contohnya : kelompok perampok, geng kejahatan atau mafia.

Sedangkan berdasarkan sifatnya, perilaku menyimpang dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Penyimpangan positif
Penyimpangan positif adalah penyimpangan yang mempunyai dampak positif karena mengandung unsur inovatif, kreatif, dan memperkaya alternatif. Jadi, penyimpangan positif merupakan penyimpangan yang mengarah pada nilai-nilai sosial yang didambakan, meskipun cara yang dilakukan tampaknya menyimpang dari norma yang berlaku. Misalnya, karena desakan ekonomi, seorang ibu rumah tangga terpaksa berkerja sebagai supir truk, sebagai kondektur bus, sebagai supir taksi dan lain sebagainya.

b. Penyimpangan negatif
Penyimpangan negatif adalah penyimpangan yang cenderung bertindak ke arah nilai-nilai sosial yang dipandang rendah dan berakibat buruk. Dalam penyimpangan negatif ini, tindakan yang dilakukan akan dicela oleh masyarakat dan pelakunya tidak dapat ditolerir oleh masyarakat. Misalnya, perjudian, pencurian, prostitusi, dan lain-lain.

V. Contoh-Contoh Perilaku Menyimpang

1. Kriminalitas
Kriminalitas adalah tingkah laku yang melanggar hukum dan melanggar norma sosial sehingga masyarakat menentangnya. Mislanya : pembunuhan, pencurian, penganiayaan, korupsi, penculikan dan lain lain. Kejahatan atau kriminalitas bukan merupaka peristiwa yang dibawa sejak lahir ataupun warisan biologis. Beberapa orang ahli menekankan pada bentuk bentuk proses seperti imitasi, pelaksanaan peran sosial asosiasi diferensial, kompensasi, identifikasi, konsep diri pribadi dan kekecewaan yang agresif sebagai proses-proses yang menyebabkan seseorang menjadi penjahat. Kejahatan bisa dilakukan oleh pria maupun wanita, anak-anak maupun dewasa .

E.H. Sutherland berpendapat bahwa perilaku jahat dipelajari dalam interaksi dengan orang lain dan orang tersebut mendapatkan perilaku jahat sebagai hasil interaksi yang dilakukannya dengan orang-orang yang berperilaku dengan kecenderungan melawan norma hukum yang ada. Tipe kejahatan antara lain:

a. Kejahatan kerah putih (white collar crime) yaitu kejahatan yang dilakukan oleh pengusaha atau para pejabat dalam menjalankan peran fungsinya. Golongan ini menganggap dirinya kebal terhadap hukum dan sarana-sarana pengendalian sosial lainnga, karena kekuasaan san keuangan yang dimilikinya dengan kuat. Misal : korupsi.
b. Kejahatan kerah biru (Blue Collar Crime) yaitu kejahatan yang dilakukan oleh golongan strata rendah. Misalnya : mencuri mangga tetangga.
c. Kejahatan terorganisasi (Organized Crime) yaitu kejahatan yang dilakukan oleh sekelompok penjahat yang secara berkesinambungan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan uang atau kekuasaan dengan jalan menghindari hukum. Misalnya : penyedia jasa pelacuran.
d. Kejahatan tanpa korban (Crime Without Victim) yaitu kejahatan yang tidak mrngakibatkan penderitaan pada korban akibat tindaknpidana orang lain. Misalnya : berjudi dan mabuk-mabukan.
e. Kejahatan coorporate ( Coorporate Crime) yaitu kejahatan yang dilakikan atas nama organisasi dengan tujuan menaikkan keuntungan atau menekan kerugian. Misalnya : suatu perusahaan yang membuang limbah beracun ke sungai dan mengakibatkan penduduk sekitar mengalami berbagai jenis penyakit.

2. Perjudian
Perjudian adalah pertaruhan dengan sengaja yaitu mempertaruhkan satu nilai atau sesuatu yang dianggap bernilai dengan menyadari adanya resiko dan harapan-harapan tertentu pada peristiwa-peristiwa permainan, pertandingan, perlombaan dan kejadian-kejadian yang tidak atau belum pasti hasilnya. Pada mulanya perjudian itu berwujud permainan pengisi waktu senggang guna mneghibur hati namun lambat laun ditambahkan dengan uang sebagai barang taruhan. Bentuk perjudian antara lain adalah permainan dady, bridge card dan domino.

Ada beberapa cara untuk menanggulangi perjudian antara lain:
a. Mengadakan perbaikan ekonomi nasional secara menyeluruh
b. Menyediakan tempat-tempat hiburan dan rekreasi yang sehat
c. Larangan praktek judi disertai dengan tindakan-tindakan preventif dan represif (hukuman dan sanksi) secara konsekuen.

3. Perilaku seks diluar nikah
Perilaku seks diluar nikah atau perzinahan merupakan perbuatan yang melanggar aturan dan harus dikenakan sanksi. Salah satu bentuk perilaku seks diluar nikah adalah prostitusi atau pelacuran. Menurut profesor W.A. Bonger, prostitusi adalah gejala kemasyarakatan dimana wanita menjual diri dengan melakukan perbuatan-perbuatan seksual sebagai mata pencahariannya.

Adapun yang dapat dimasukkan dalam kategori pelacuran antara lain:
a. Pergundikan yaitu kehidupan suami istri tanpa ikatan perkawinan
b. Tante girang (Loose Married Woman) yaitu wanita yang sudah menikah namun tetap melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain.
c. Gadis bar , yaitu gadis yang bekerja sebagai pelayan bar sekaligus memberikan pelayanan seks kepada para pengunjung.

Selain itu juga terdapat beberapa bentuk penyimpangan seksual seperti homoseksual yang melakukan hubungan dengan sesama jenis, nekrofilia yaitu berhubungan seks dengan orang yang sudah mati, pedofilia yaitu berhubungan seks dengan anak-anak sebagai korbannya, Transvetitisme yaity memuaskan keinginan seks dengan cara mengenakan pakaian lawan jenis dan ekshibisionisme yaitu kepauasan seks dengan memperlihatkan alat kelaminnya.
Perilaku seksual di luar nikah dan bergonta ganti pasangan dapat menimbulkan beberapa dampk bagi individu tersebut antara lain:a. Menimbulkan penyakit kelamin
b. Dapat menyebabkan terjadinya disfungsi seksual
c. Merusak kehormatan keluarga
d. Dan lain sebagainya.

4. Penyalahgunaan Obat TerlarangPada awalnya sebagian narkotika dan obat-obatan terlarang digunakan oleh kalangan dokter sebagai usaha untuk mengurangi rasa sakit berlebihan yang dialami oleh pasiennya. Akan tetapi, obat tersebut akhirnya menjadi obat terlarang karena digunakan oleh orang-orang yang menyimpang. Penyalahgunaan obat terlarang lebih banyak terjadi pada kaum remaja karena perkembangan emosi mereka yang belum stabil dna cenderung ingin mencoba sesuatu, kondisi cemas, situasi keluarga yang tidak harmonis, salah memilih teman, dan lain sebagainya. Contoh obat yang terlarang adalah narkotika (ganja, candu, putaw), psikotropika (ekstasi, magadon) dan alkohol.

5. Penyimpangan Dalam Bentuk Gaya Hidup
Penyimpangan ini lebih kepada suatu sikap arogansi atau kesombongan terhadap sesuatu yang dimilikinya seperti kekayaan, kekuasaan, dan kepandaian. Sikap arogan bisa saja dilakukan oleh seseorang yang ingin menutupi kekurnagan dirinya.

VI. Teori-Teori Penyimpangan Sosial

1. Teori Differential Association
Teori ini diciptakan oleh Edwin H. Sutherland yang mengatakan bahwa penyimpangan bersumber pada pergaulan yang berbeda. Penyimpangan dipelajari melalui proses alih budaya ( cultural transmission).

2. Teori Labelling
Teori yang dipelopori oleh Edwin M. Lemerd berpendapat bahqa penyimpangan lahir karena adnaya batasan atas suatu perbuatan yang menyimpang.
3. Teori Merton
Teori yang dikemukakan oleh Robert K. Merton ini menjelaskan penyimpangan melalui struktur sosial. Struktur sosial menghasilkan pelanggaran terhadap aturan sosial dan menekan orang tertentu ke arah perilaku yang tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku di dalam masyarakat.
4. Teori Fungsi
Menurut Emile Durkheim, keseragaman dalam kesadaran moral semua anggota masyarakat tidak dimungkinkan karena setiap individu berbeda satu dengan yang lain. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah faktor keturunan, lingkungan fisik, dan lingkungan sosial. Penyimpangan tetap mempunyai fungsi yang positif bagi beberapa individu.
5. Teori Konflik
a. Teori konflik kelas sosial, teori ini dikembangakn oleh penganut Karl Marx yang mengemukakan bahwa kejahatan berkaitan erat dengan perkembangan kapitalisme. Sehingga perilaki menyimpang diciptakan oleh kelompok-kelompok berkuasa dalam masyarakat untuk melindungi kepentingan mereka sendiri.
b. Teori konflik budaya 
Apabila dalam suatu masyarakat terdapat beberapa kebudayaan khusus (etnik, agama, suku bangsa dna lainnya) maka akan sulit untuk menemukan adanya kesepakatan nilai dan norma. Pada teori ini, kelompok masyarakat kelas menengah mempunyai norma budaya yang dominan dan dijadikannya sebagai hukum tertulis dan orang lain yang termasuk dalam kebudayaan khusus lain dianggap sebagai menyimpang.
6. Teori Biologis
Teori ini berpandangan bahwa seseorang melakukan perilaku menyimpang karena faktor biologis. Para ahli melakukan berbagai studi yang menyatakan bahwa orang yang mempunyai tubuh tertentu lebih cenderung untuk melakukan perbuatan menyimpang. Cesare Lambroso seorang kriminolog dari Italia berpendapat bahwa orang jahat mempunyai ciri-ciri ukuran rahang dan tulang-tulang pipi yang panjang, kelainan pada mata yang khas, jari-jari kaki dan tangan relatif besar, serta mempunyai susunan gigi yang abnormal.

Daftar PustakaYunus, Achmad. 2014. Pendidikan Sosiologi Untuk Kelas X SMA dan MA. Pati: MGMP Pendidikan Sosiologi

Keyword : Materi Sosiologi

0 Response to "Prilaku Menyimpang - Edukasi"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel